Menulis mengungkapkan banyak peristiwa. Sesuatu yang menembus batas kelompok pembicaraan. Melewati batas dari apa yang ingin atau yang telah kita katakan. Dengan menulis kita bisa menjadi diri sendiri. Jadi pribadi murni, natural, polos dan confidence tentunya. Suatu saat kita akan dibuat takjub oleh apa yang telah dihasilkan oleh pena kita.
Aku rasa the truly friendship adalah sebuah pena dan lembaran kertas. Dimana merekalah sebagai penghibur disaat kita sedang terjebak dalam hiruk pikuk dunia yang kita sendiri terbungkam oleh suara. Yach… suara dalam keramaian yang semakin mengeras diantara kelirihan hati kita. Yang selalu beradu memenangkan sebuah citra diri, keangkuhan dan kelalaian. Mereka selalu hadir sebagai teman curhat yang paling setia, selalu mendengar semua yang kita katakan, ceritakan, adukan, dan tangiskan, yang kadang kita sendiri merasa gelisah jika kita ceritakan pada khalayak, yang tak jelas masa yang ada di depannya apakah akan tersuarakan atau teredamkan. Kertas dan pena jugalah yang menjadi saksi lahirnya sebuah kegembiraan yang mengenang, kesedihan yang menyayat, keterbisuan yang membungkam, keletihan yang menyita, kerinduan yang mendalam, keterpesonaan yang teramat, dan ketakjuban yang luar biasa.
Kuingin memulai segalanya disaat aku mengenal cinta. Cintaku pada sang pencipta yang selalu hadir dalam setiap apapun. Cintaku pada Rasululloh suri tauladanku. Cintaku pada sahabat terbaikku Pak’e dan Mak’e yang selalu mengenalkan aku pada kecintaan terhadap sesuatu. Sahabat dan teman dekatku yang tak pernah letih mengajariku tentang menjadi subjek yang mencintai dan dicintai.
* * *
Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar tambah lari, tapi jika kita biarkan terbang bebas, ia akan datang disaat yang tak kita duga. Kadang ia hanya datang untuk singgah sebentar kemudian pergi lagi untuk menemui hati-hati lainnya. Namun kadang ia hanya berjalan melewati kita tanpa menyapa, membuang muka, menganggap kita seakan-akan orang asing, dan tak peduli akan perasaan kita. Akan tetapi jika ia menemukan kepingan hatinya yang telah hilang itu, ia akan menjaganya dengan sepenuh hati, tak peduli seburuk apapun perjalanannya. Ia selalu membawa kebahagiaan yang luar biasa kepada setiap yang dijatuhi cinta, namun terkadang ia membawa kenangan buruk yang enggan untuk kita ingat jika ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kita. Meninggalkan hati kita sendiri, dengan kenangan yang tak berujung.
Akan tetapi, kehadirannya adalah sebuah kekuatan. Kekuatan untuk menjadikan yang hilang menjadi ada. Yang terasingkan menjadi terindukan. Yang terabaikan menjadi terimpikan.
Kecintaanku pada Tuhanku menggambarkan kebersyukuranku atas apa yang telah aku raih, telah aku capai, kasih sayang yang telah aku dapatkan. Anugrah tiada tara yang mungkin jika lautan di dunia ini dijadikan tinta dan semua pohon di dunia ini dijadikan buku untuk menuliskan nikmat yang semata-mata Ia berikan, tidak akan habis usahaku mewujudkannya. Mungkin aku tidak akan kuat untuk terus mensuratkan akan Keagungan dan Maha Daya-Nya.
Kecintaanku pada kedua orang tua ku menunjukkan kekagumanku pada kesabaran yang aku pelajari dari pak’e, dan kerja keras yang aku resapi dari mak’e. Aku berani katakan kalau pak’e ku adalah bunglon. Yang aku tidak pernah tahu ia menjadi warna apa? Dimana? dan sedang apa? jika ia hinggap diatas daun, ranting dan dahan yang beraneka rupa. Aku seakan tertipu, tertipu oleh wajah yang selalu ia tampilkan. Pementasan yang selalu ia suguhkan, bagai memainkan sebuah lakon yang pemirsa tidak tahu apakah antagonis ataukah protagonis yang ia perankan, bahkan menjadi seorang figuran sekalipun. Ia lebih sering diam, namun kediamannya menyampaikan makna yang dalam. Ia berubah menjadi lebih sering guyonan, namun guyonannya sarat akan arti. Aku tidak pernah bisa menebak suasana hatinya. Jika diandaikan seperti keikutsertaanku dalam sebuah kuis, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaannya. Andaikan aku sedang mengerjakan soal matematika, aku tak pernah bisa menemukan rumusnya. Ataukah bila aku sedang mencari sebuah alamat rumah, aku tidak pernah menemukannya dimana.
Aku tidak pernah tahu apakah dia sedang sedih saat ia tertawa. Dan aku tidak pernah tahu dia sedang senang saat dia menangis. Pak’e selalu bisa memainkan peranannya dengan baik. Hingga tak seorangpun anaknya yang mampu menelusuri setiap relung hatinya. Mencari jawaban atas tanda tanya yang ia sampaikan. Mungkin hanya Mak’e yang sepenuh hati mampu memahaminya, mengerti setiap guratan raut mukanya menggambarkan ekspresi apa. Selalu tahu keadaan hatinya mengisyaratkan mengenai sesuatu.
Marza 3006
Ketika pura-pura berbuah rasa suka. Yah itulah kata yang paling tepat menggambarkan hubungan yang mulai aku jalin dengannya. Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana karena bisa dibilang saat-saat bersamanya adalah kenangan indah yang tak bisa kami berdua pungkiri meskipun butuh waktu lama untuk menyamakan persepsi diantara kami. Pertengkaran sering tejadi diantara kami. Memang aku sedang belajar menjalani sebuah hubungan lebih dari sekedar teman untuk pertama kalinya. Dia wanita pertamaku. Yang mengajarkan aku cara mencintai, menghargai dan menyenangi lawan jenis. Dia pacar pertamaku setelah 19 tahunan aku sendiri menjalani hariku seperti biasa tanpa kehadiran seorang yang mendampingiku menjelajahi apa makna cinta dan kasih sayang itu, yang orang lain sudah pernah mengalaminya sedangkan aku belum sama sekali. Aku menyayanginya, ingin menjadi orang terpenting dalam hidupnya berharap jadi satu-satunya yang ada di hatinya. Namun kadang kala kenyataan tak seindah impian dan harapan. Aku mencintai seorang yang dicintai orang lain. Aku menginginkan hati yang diinginkan orang lain. Aku memuja wanita yang dipuja orang lain.
ABCat 0301
Kecintaanku padanya lahir bukan pada pertama kali aku melihatnya. Bukan pada saat aku berkenalan dengannya, menanyakan namanya atau minta nomer telponnya. Benih suka tumbuh saat bersamanya, melewati hari-hari dengannya, menjangkau suka dan duka berdua. Dia tidaklah secantik bidadari cinta, semanis dewi amor, namun bila aku didekatnya aku merasa lebih nyaman. Saat bersamanya aku mampu menjadi pribadi kekanak-kanakan yang manja dan juga menjadi pribadi yang dewasa sekaligus.
Bisa saja dia hanya salah singgah atau berhenti sejenak di hati ini terus melanjutkan perjalanannya kembali memaknai arti hidup namun itu tidak masalah bagiku karena didekatnya aku tenang hanya dia pelipur laraku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar